Kamis, 04 Mei 2017

Situ Wangi Kawali Ciamis

Ketua Yayasan Galuh Etnic Winduraja, Atus Gusmara, menjelaskan, saat ini tedapat dua versi cerita mengenai sejarah awal mula keberadaan Situ Wangi,  yang terletak di Dusun Hayawang, Desa Winduraja, dan berbatasan langsung dengan Desa Citeureup dan Purwasari, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Cerita yang pertama, kata Atus, diawali saat Raja Galuh pertama, keturunan brata legawa, atau lebih akrab dikenal haji purwa galuh (Prabu Wangi), pergi ke mekah untuk berhaji. Sepulang dari mekah, Haji Purwa Galuh tersebut membawa air zam-zam. Kemudian, sebagian air zam-zam tersebut dituangkan ke dalam situ, kemudian lahirlah nama Situ Wangi.
Cerita yang kedua, kata Atus, nama Situ Wangi diambil dari nama seorang penari ronggeng yang dulu mencurahkan keluh kesahnya dengan mendatangi situ tersebut, nama seorang penari itu Nyi mas Sri Wangi.
Lebih lanjut, Atus mengungkapkan, saat Situ Wangi diresmikan, para tamu undangan disuguhi ikan mas. Ikan mas itu kemudian dimakan, tapi bagian kepalanya tidak. Ikan itu selanjutnya dilemparkan ke dalam Situ Wangi. Seketika, ikan mas itu hidup kembali. Ikan mas itu diberi nama si Rawing.
“Ada lagi cerita, ikan mas yang disuguhkan saat pembukaan, hanya dimakan pada bagian perutnya saja. Ikan itu kemudian hidup kembali setelah dilemparkan ke dalam situ. Ikan itu kemudian dinamai Kohkol,” ucapnya.
Selanjutnya, lanjut Atus, seandainya Situ Wangi itu dipancing, maka ikan yang ada di dalamnya akan pindah ke Situ Panjalu. Ikan-ikan itu dibawa Kohkol, dimana bagian perutnya yang berlubang membawa air menuju Situ Panjalu. Air itu digunakan untuk memubuat jalan yang dilalui ikan menjadi licin. Ikan Kohkol itu biasanya diikuti ikan lele berukuran besar di belakangnya.
Fenomena lain yang terjadi pada Situ Wangi, Atus menambahkan, terjadi pada saat kejadian tsunami Aceh. Air yang ada di Situ Wangi surut sedalam dua meter, dan kembali menyembur ke atas mencapai empat meter. Kejadian itu persis bersamaan dengan peristiwa tsunami.
“Begitu juga saat terjadi bencana di belahan bumi lain. Air di Situ Wangi bergelombang seperti ombak dan airnya berubah menjadi keruh,” pungkasnya.

Secara administratif, Situ Wangi terletak di Desa Winduraja, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat dan terletak pada koordinat 7°09’42.0″S 108°22’11.3″E. Pada mulanya, Situ Wangi hanya dimanfaatkan oleh warga setempat sebagai sumber pengairan sawah, kebun, dan kolam. Pada 2007, Situ Wangi masuk kedalam pada perencanaan pengembangan objek wisata oleh Pemkab Ciamis. Hal ini baru dapat direalisasikan pada 2014.
Situ Wangi yang memiliki luas kurang lebih 4,7 Ha yang sudah meliputi area perairan dan darat akhirnya dibenahi. Pembenahan dilakukan oleh Pemkab Ciamis. Pembenahan yang dilakukan diantaranya perbaikan akses jalan menuju Situ Wangi, pembuatan gapura Situ Wangi, pembuatan area parkir wisatawan. Pembenahan lainnya, terkait dengan penataan dan penambahan sarana prasarana bisa dilangsungkan setelah pembebasan lahan warga yang berbatasan langsung dengan area Situ Wangi.
Asal-usul nama Situ Wangi memiliki dua versi yang berbeda. Versi pertama berkaitan dengan Kerajaan Galuh. Disebutkan, Raja Galuh pertama, keturunan Brata Legawa, atau lebih akrab dikenal Haji Purwa Galuh (Prabu Wangi), pergi ke Mekah untuk berhaji. Sepulang dari Mekah, Haji Purwa Galuh tersebut membawa air zam-zam. Kemudian, sebagian air zam-zam tersebut dituangkan ke dalam situ, kemudian lahirlah nama Situ Wangi. Versi kedua yaitu diambil dari nama seorang penari ronggeng yang dulu mencurahkan keluh kesahnya dengan mendatangi situ tersebut, nama seorang penari itu Nyi mas Sri Wangi.
Selain asal-usul nama Situ Wangi yang salah satunya memiliki kaitan dengan Kerajaan Galuh, ada beberapa fenomena dan kepercayaan warga setempat mengenai Situ Wangi. Salah satunya adalah cerita mengenai Rawing dan Kohkol yang muncul pada saat peresmian Situ Wangi.
Saat Situ Wangi diresmikan, para tamu undangan disuguhi ikan mas. Ikan mas itu kemudian dimakan, tapi bagian kepalanya tidak. Ikan itu selanjutnya dilemparkan ke dalam Situ Wangi. Seketika, ikan mas itu hidup kembali. Ikan mas itu diberi nama si Rawing. Ada lagi cerita, ikan mas yang disuguhkan saat pembukaan, hanya dimakan pada bagian perutnya saja. Ikan itu kemudian hidup kembali setelah dilemparkan ke dalam situ. Ikan itu kemudian dinamai Kohkol.
Keanehan di Situ Wangi terkait keberadaan Kohkol yaitu seandainya Situ Wangi itu dipancing, maka ikan yang ada di dalamnya akan pindah ke Situ Panjalu. Ikan-ikan itu dibawa Kohkol, dimana bagian perutnya yang berlubang membawa air menuju Situ Panjalu. Air itu digunakan untuk memubuat jalan yang dilalui ikan menjadi licin. Ikan Kohkol itu biasanya diikuti ikan lele berukuran besar di belakangnya.
Fenomena lain yang terjadi pada Situ Wangi, terjadi pada saat kejadian tsunami Aceh. Air yang ada di Situ Wangi surut sedalam dua meter, dan kembali menyembur ke atas mencapai empat meter. Kejadian itu persis bersamaan dengan peristiwa tsunami. Begitu juga saat terjadi bencana di belahan bumi lain. Air di Situ Wangi bergelombang seperti ombak dan airnya berubah menjadi keruh.
Mitos lainnya seputar Situ Wangi ialah adanya larangan untuk buang air besar dan kecil di sekitar danua. Konon, menurut warga setempat, jika dilanggar, maka pelanggar tersebut akan meninggal keesokan harinya. Untuk menghindari petaka tersebut, pelanggar harus membaca Al-Quran semalam suntuk dengan ditemani oleh warga setempat. Ada juga mitos mengenai larangan suku asli di salah satu wilayah di Jawa Barat untuk berkunjung ke Situ Wangi. Meskipun masih belum jelas alasan dan akibatnya, namun, ada baiknya pengunjung tetap menghormati kepercayaan di lokasi Situ Wangi.
Air Situ Wangi tidak akan menyusut seperti kebanyakan danau lainnya di Jawa Barat. Ketika musim kemarau, air dan ikan di Situ Wangi akan tetap berlimpah. Air di Situ Wangi tidak akan surut dan ikan-ikannya tidak akan menghilang ketika musim kemarau. Hal ini disebabkan adanya kepercayaan bahwa sumber air di Situ Wangi sama dengan sumber air yang ada di Situ Lengkong, Kabupaten Panjalu.
Akses menuju Situ Wangi termasuk mudah, bahkan dari beberapa kota besar di sektarnya, seperti Majalengka, Ciamis, bahkan Bandung. Berikut uraian jalur menuju Situ Wangi dari beberapa kota besar.
BANDUNG – KAWALI – SITU WANGI
Arahkan kendaraan menuju Ciawi melalui Jalan Raya Bandung – Tasikmalaya. Tepat di Pasar Ciawi, ambil jalan menuju Pondok Pesantren Suryalaya melalui Pagerageung. Pertigaan menuju Pagerageung berada pada koordinat -7.125025, 108.145545. Pada koordinat ini, ambil kanan menuju Jalan H. Salim. Ikuti jalan raya utama hingga tiba di pertigaan pada koordinat -7.125503, 108.154650. Ambil arah kiri pada pertigaan ini menuju Jalan Raya Nanggeleng – Cirahayu (Jalan Raya Pagerageung). Ikuti terus jalan raya utama hingga patokan berikutnya. Patokan berikutnya yaitu Pondok Pesantren Suryalaya.
Setelah persimpangan dengan jalur menuju Pondok Pesantren Suryalaya, akan ditemui persimpangan besar pada koordinat -7.125572, 108.219191. Persimpangan ini merupakan pertemuan dari Jalan Raya Suryalaya – Jalan Raya Panjalu – Simpang Tiga Warudoyong. Ikuti jalan raya utama pada persimpangan ini menuju Simpang Tiga Warudoyong. Patokan berikutnya yaitu Situ Lengkong di Kecamatan Panjalu.
Setibanya di area Situ Lengkong, tepatnya di persimpangan pada koordinat -7.128427, 108.264994, ambil arah kanan menuju gerbang masuk objek wisata Situ Lengkong. Setelah gerbang masuk objek wisata Situ Lengkong, ikuti jalan raya utama menuju Jalan Raya Panjalu – Kawali. Ikuti jalan raya utama hingga tiba di persimpangan pada koordinat -7.177750, 108.364180. Ambil arah kiri menuju Jalan Cikijing – Kawali. Ikuti jalan raya utama hingga tiba di persimpangan pada koordinat -7.166573, 108.368959.
Persimpangan ini berada tepat di tikungan, sehingga akan lebih mudah jika masuk dari arah Kawali. Ikuti jalan utama hingga menemukan gapura masuk ke Situ Wangi pada koordinat -7.162870, 108.368633. Gapura masuk menuju Situ Wangi berada di sebelah kanan jalan. Pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 115 Km dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam 25 menit.
CIAMIS – KAWALI – SITU WANGI
Arahkan kendaraan menuju Kecamatan Kawali. Setelah tiba di Kecamatan Kawali, arahkan kendaraan menuju Jalan Raya Cikijing – Kawali hingga bertemu persimpangan pada koordinat -7.177648, 108.364181. Ambil arah kanan pada persimpangan ini menuju Jalan Raya Cikijing – Kawali. Ikuti jalan utama hingga menemukan gapura masuk ke Situ Wangi pada koordinat -7.162870, 108.368633. Gapura masuk menuju Situ Wangi berada di sebelah kanan jalan. Pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 23.2 Km dengan waktu tempuh kurang lebih 38 menit.
MAJALENGKA – PANAWANGAN – SITU WANGI
Arahkan kendaraan menuju Kecamatan Cikijing melalui Kecamatan Maja kemudain Kecamatan Talaga. Setiba di Kecamatan Cikijing, arahkan kendaraan menuju persimpangan ke Jalan Raya Cikijing – Kawali. Persimpangan menuju Jalan Raya Cikijing – Kawali berada pada koordinat -7.016263, 108.365689. Ambil arah kiri menuju Jalan Raya Panawangan. Ikuti jalan raya utama hingga tiba pada persimpangan di koordinat -7.025867, 108.351542. Ambil arah kiri menuju Jalan Raya Panawangan.
Arahkan kendaraan hingga tiba di Panawangan. Setiba di Panawangan, ikuti jalan Raya Cikijing – Kawali hingga tiba persimpangan pada koordinat -7.177648, 108.364181. Ambil arah kanan pada persimpangan ini menuju Jalan Raya Cikijing – Kawali. Ikuti jalan utama hingga menemukan gapura masuk ke Situ Wangi pada koordinat -7.162870, 108.368633. Gapura masuk menuju Situ Wangi berada di sebelah kanan jalan. Pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 62.3 Km dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam 44 menit.
Kondisi jalan, baik Jalan Raya Ciamis – Kawali – Winduraja, Jalan Raya Pagerageung – Panjalu – Kawali, dan Jalan Raya Cikijing – Panawangan – Winduraja akan sangat sepi menjelang malam. Penerangan masih sangat minim serta jarak antar rumah yang cukup berjauhan. Sebaiknya tidak melintas di jalur ini pada malam hari bagi yang belum terbiasa. Situ Wangi sebagai objek wisata masih belum memiliki fasilitas penunjang wisata yang lengkap, bahkan mck. Pengunjung dapat meminta ijin pada warga setempat jika membutuhkan sesuatu. Lokasi Situ Wangi berada sangat dekat dengan permukiman warga.

Astana Gede Kawali – Ibukota Kerajaan Galuh Masa Lalu Prasasti III Astana Gede Kawali (Foto: Deni Sugandi)

Astana Gede Kawali – Ibukota Kerajaan Galuh Masa Lalu

Prasasti III Astana Gede Kawali (Foto: Deni Sugandi)
Prasasti III Astana Gede Kawali (Foto: Deni Sugandi)
Alampriangan.com – CIAMIS memiliki sejarah yang panjang.  Wilayah ini dahulu memiliki peranan yang sangat penting karena menjadi pusat kerajaan Galuh, sebuah kerajaan besar di Jawa Barat yang berdiri sejak abad VII.  Salah satu lokasi yang pernah menjadi Ibu Kota Kerajaan Galuh adalah Kawali.
Saat ini sisa-sisa peninggalan kejayaan Kerajaan Galuh pada abad ke-14 Masehi bisa dilihat di Situs Astana Gede Kawali. Menariknya, tinggalan arkeologis yang terdapat di situs ini berasal dari tiga budaya yang berbeda, yaitu antara budaya lokal, budaya Hindu dan Islam. Beberapa tinggalan arkeologis yang ada antara lain 6 buah batu prasasti, 3 buah batu menhir dan 11 buah makam.

Lokasi Situs Astana Gede Kawali

Situs Astana Gede Kawali terletak di Dusun Indrayasa, Kecamatan Kawali, sekitar 21 km dari kota Ciamis ke arah Utara. Di dalam situs ini terdapat banyak peninggalan arkeologis.
Situs ini memiliki luas sekitar 5 ha. Berada di kaki Gunung Sawal, bentang alamnya dikelilingi oleh pepohonan yang rimbun dan tinggi sehingga memberikan hawa yang sejuk dan aura mistis yang kental.
Di sebelah Selatan dibatasi oleh Sungai Cibulan yang mengalir dari Barat ke Timur. Di sebelah Timur berupa parit kecil dari sungai Cimuntur yang mengalir dari Utara ke Selatan.  Di sebelah Utara, mengalir Sungai Cikadongdong dan sebelah Barat dibatasi oleh Sungai Cigarunggang.
Keadaan lingkungan situs ini merupakan hutan lindung yang ditumbuhi dengan berbagai jenis tumbuhan, tanaman keras dari famili meliceae, lacocarpaceae, euphorbiaceae, sapidanceae dan lain-lain, tanaman palawija, rotan, salak, cengkih dll.
Dari kota Ciamis, Situs ini dapat ditempuh dengan kendaraan, baik motor ataupun mobil, sekitar empat puluh lima menit. Kondisi jalan cukup baik karena sudah diaspal.

Sejarah Situs Astana Gede Kawali

Konon situs dinamakan Astana Gede karena terdapat sebuah makam yang ukurannya besar, panjang sekali dan berbeda dengan makam-makam lain pada umumnya. Dalam bahasa Sunda, astana berarti makam dan gede berarti besar.
Namun ada juga yang berpendapat karena Situs Astana Gede merupakan tempat dimakamkannya orang-orang besar, atau dalam bahasa Sunda disebut gegeden. Makam tersebut diduga adalah makam Pangeran Usman, yang memerintah pada 1592 – 1643 M. Beliau sudah memeluk agama Islam yang merupakan keturunan dari Kesultanan Cirebon.

Makam Adipati Singacala di Astana Gede Kawali
Makam Adipati Singacala di Astana Gede Kawali
Dilihat dari tinggalan budaya yang ada, Astana Gede Kawali merupakan kawasan campuran. Yaitu berasal dari periode prasejarah, klasik dan periode Islam.
Bentuk budaya dari tradisi megalitik ditandai dengan adanya temuan punden berundak, lumpang batu, menhir, yoni kemudian berlanjut secara berangsur-angsur ke tradisi budaya sejarah (klasik) yang ditandai dengan adanya prasasti, kemudian berlanjut ke tradisi Islam yang ditandai dengan adanya makam kuna.
Prasasti Kawali II di Astana Gede Kawali
Prasasti Kawali II di Astana Gede Kawali
Pada masanya, Kawali merupakan pusat pemerintahan kerajaan Galuh dengan raja-raja yang bertahta yaitu Prabu Ajiguna Linggawisesa, yang dikenal dengan sebutan Sang Lumahing kiding, Prabu Ragamulya atau Aki Kolot, Prabu Linggabuwana yang gugur pada peristiwa bubat, Rahyang Niskala Wastukancana yang meninggalkan beberapa prasasti di Astana Gede (Situs Kawali) dan Dewa Niskala, ayah dari Prabu Jayadewata yang selanjutnya memindahkan pusat kerajaan ke Bogor (baca juga: Sejarah Kawali).

Keistimewaan Situs Astana Gede Kawali

Sebagi destinasi wisata budaya dan wisata sejarah, situs ini merupakan kawasan yang menarik untuk dikunjungi. Pengunjung datang dari berbagai daerah di Kabupaten Ciamis, dan banyak juga yang datang dari luar Kabupaten Ciamis.
Selain itu, situs ini juga merupakan obyek ilmu pengetahuan. Banyak tinggalan budaya masa lampau yang sudah diteliti oleh para ilmuwan seperti ahli arkeologi, ahli filologi sejarawan dsb.
Mereka datang untuk meneliti mulai dari jenis batu-batuan, tulisan dan bahasanya, atau temuan-temuan lain yang berhasil digali terutama oleh para ahli arkeologi.  Penelitian di Astana Gede mulai dilakukan pada zaman Belanda, tetapi lebih menitikberatkan pada prasasti.
Orang Eropa yang pertama kali tertarik pada prasasti di Situs Kawali ini adalah Thomas Stamford Raffles (1811-1816), terbukti dia menyebut-nyebutnya dalam dalam bukunya History of Java. Namun, prasasti itu baru dibaca secara serius oleh Friederich pada tahun 1855.
Selanjutnya berturut-turut  K.F. Holle pada tahun 1867 dan  J Noorduijn pada tahun 1988. Dua orang filolog Indonesia yang juga membaca ulang prasasti ini adalah Saleh Danasasmita (1984) dan Atja (1990). Prasasti ke-enam ditemukan tahun 1995 oleh Juru Pelihara Astana Gede bernama Sopar.
Salah satu dari prasasti tersebut bertuliskan “Mahayuna Ayuna Kadatuan” yang dijadikan sebagai motto juang Kabupaten Ciamis.
Jadi, kapan berkunjung ke Situs Astana Gede Kawali?

Pantai Karang Tawulan

Pantai Karang Tawulan, nama pantai ini mungkin masih rada asing di telinga para traveller. Padahal, pantai karang tawulan bisa dikatakan salah satu pantai indah yang ada di jalur selatan wilayah jawa barat.
Saya pun secara tidak sengaja berkunjung ke pantai tempat wisata di Tasikmalaya ini saat touring ke Pangandaran. Tapi ternyata dari ketidak sengajaan ini bisa ketemu juga pantai yang masih alami dan indah banget di jalur selatan.

Objek wisata alam tasikmalaya yang pertama adalah Pantai karang tawulan yang berlokasi di Cilembang Kecamatan Cihideung Tasimalaya. Pantai ini memang belum terkenal di kalangan penggila wisata karena untuk menuju ke pantai ini pun aksesnya tidak begitu mudah.
jarak dari pusak kota tasikmalaya ke pantai karang tawulan adalah sekitar 90 kilometer, mengingat lokasinya yang berada di perbatsan antara kedua kabupaten yaitu kabupaten tasikmalaya dan kabupaten ciamis.
bagi anda traveler sejati pastinya pantai ini terlihat begitu menarik karena masih jarang yang mengunjungi dan juga tentunya pantainya masih alami dan bersih.

Alamat / Lokasi Pantai Karang Tawulan

Secara administratif alamat / lokasi Pantai Karang Tawulan berada di desa Cimanuk, kecamatan Cikalong, Tasikmalaya. Lokasinya berbatasan dengan wilayah Ciamis-Pangandaran.
Letak karang tawulan sendiri sebetulnya cukup strategis dan mudah untuk dijangkau. Saat ini jalan di jalur selatan jawa barat sudah bagus sehingga wisatawan dari kota lain seperti bandung, jakarta, dll akan dengan mudah mencapai tempat ini.
Daya tarik pantai ini ada di bentukan tebing yang sedikit menjorok ke tengah laut, dengan pantai pasir yang indah dan sedikit tersembunyi dibagian bawah kiri dan kanan tebing.
jalan menuju pantai karang tawulan
Pernah berkunjung ke pantai Puncak Guha Garut? jika pernah maka bentukannya hampir sama. Hanya saja kalau menurut saya lebih bagus, indah, dan teduh di karang tawulan. Selain itu di pantai ini anda bisa turun ke bermain di pasir pantai.
alamat pantai karang tawulan
sudut tebing yang menjorok ke tengah
Dari ujung pagar di foto diatas, anda bisa melihat lepas ke pantai di sebelah kiri dan kanan. Tidak jauh dari situ juga terdapat pulau karang besar . Biasanya pulau itu dijadikan sarang burung camar pada waktu-waktu tertentu.
Area pantai Karang Tawulan sendiri sebetulnya cukup luas, dan mempunyai fasilitas yang cukup lengkap. Di area utama yang berada diatas tebing, anda bisa beristirahat di warung-warung yang tersedia. Sarana parkir pun tersedia cukup luas.
Saat saya datang, jalan menuju ke lokasi pantai dari jalur utama pantai selatan baru saja di aspal mulus. Jaraknya memang tidak jauh juga sih dari jalan raya, paling sekitar 500 meter saja.

Peta Pantai Karang Tawulan

Berikut ini adalah peta menuju karang tawulan berdasarkan google map.

Jalan Menuju Pantai Karang Tawulan Tasikmalaya

Ada beberapa rute jalan menuju pantai karang tawulan tasikmalaya yang bisa anda gunakan.
1. Rute Menyusuri Pantai Selatan
Jalan ini yang saya gunakan dari Bandung. Ada 2 alternatif rute dari bandung via jalur selatan:
  • rute Bandung – Pangalengan – pantai Ranca Buaya Garut – Santolo – Cipatujah – Karang Tawulan. Ini jalan yang saya gunakan
  • rute bandung – ciwidey – pantai cidaun cianjur – pantai Ranca Buaya Garut – Santolo – Cipatujah – Karang Tawulan.
Kondisi jalan saat saya lewati cukup mulus. Mungkin karena jalur ini memang dijadikan jalur utama dari Bandung untuk menuju ke jalur selatan jawa barat.
Kondisi jalan di sepanjang jalur selatan juga bagus sekali. Hanya di dekat jembatan-jembatan besar saja yang masih bergelombang. Rute menuju pantai karang tawulan di sepanjang jalur selatan relatif lurus. Pastikan selalu cek kecepatan anda, karena seringkali ngga sadar kalau kecepatan kendaraan sudah lumayan.
Sepanjang yang saya lihat, kendaraan umum di rute ini cukup jarang. Kalaupun ada berupa kendaraan Elf saja.
2. Rute antar kota biasa
Untuk jalan yang ini menggunakan rute antar kota biasa, tidak menyusuri pantai. Ada beberapa alternatif yang bisa anda gunakan dari Bandung
  • rute Bandung –  Tasikmalaya – Singaparna – Cipatujah – Karang tawulan
  • rute Bandung – Garut – Jalan singaparna – Cipatujah – Karang tawulan
  • rute Bandung – Garut – Pameungpeuk – Cipatujah – Karang tawulan.
Anda bisa menggunakan kendaraan umum melewati rute ini. Biasanya berupa Elf.
3. Dari Pangandaran
Dari pangandaran, letak pantai karang tawulan tidak terlalu jauh kok. hanya kurang lebih 1,5 jam saja sudah bisa sampai dari Pangandaran ke lokasi.
Letak lokasi pantai ini tidak jauh dari gerbang perbatasan Ciamis – Tasikmalaya. Untuk lebih mudahnya anda bisa menggunakan panduan peta google map diatas.

Fasilitas di Pantai Karang Tawulan

Untuk fasilitas, tempat wisata di tasikmalaya ini cukup lengkap. Terdapat toilet di area utama, warung-warung makan dengan harga yang ‘normal’, dan juga lapangan parkir yang cukup luas.
alamat pantai karang tawulan - lapang parkir
Untuk tempat sampah umum masih sedikit sekali. Disamping itu terdapat gardu pandang dan beberapa gazebo di spot-spot yang strategis buat menikmati keindahan sekitar pantai.
Di beberapa lokasi, pagar pengaman sudah rusak. Ada juga satu gazebo yang sudah tidak ada atapnya lagi.
pantai karang tawulan tasikmalaya
beberapa sarana yang rusak

Harga Tiket Masuk Pantai Karang Tawulan

Harga tiket masuk pantai karang tawulan terhitung murah. Tiket masuk per orang Rp 3500, dan Rp 2500 untuk motor. Untuk kendaraan roda 4 tiket masuknya adalah Rp 10,000.
Banyak pengunjung yang bermain sampai ke tebing karang yang menjorok ke tengah laut. Biasanya ini digunakan untuk spot memancing. Memang tidak terlalu sulit untuk menuju kesana, tetapi wajib hati-hati sekali karena jika jatuh langsung ke laut dengan karang-karang yang lumayan tajam.
pantai karang tawulan 9

Penginapan di Pantai Karang Tawulan

Untuk penginapan di pantai karang tawulan belum ada. Tetapi terdapat beberapa penginapan kecil di sepanjang jalan jalur selatan yang tidak jauh dari lokasi. Selain itu anda pun bisa camping di area atas. Area bagian atas pantai memang banyak digunakan sebagai tempat camping oleh pengunjung.

Video Pantai karang Tawulan

Video pantai karan tawulan bisa rekan-rekan tonton dibawah ini
Nah buat anda yang kebetulan sedang traveling ke pantai pangandaran, ataupun sedang menyusuri jalur pantai selatan, ada baiknya untuk mampir ke pantai ini. Dijamin sepadan dan tidak akan mengecewakan.

Jembatan Sasak Cirahong, Jembatan Susun yang Apik Dalam Jepretan Kamera

Berada di perbatasan antara kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis, traveler bisa menemukan jembatan susun yang keren banget jika difoto. Jembatan tersebut bernama Cirahong atau ada pula yang menyebutnya Jambatan Sasak Cirahong. Untuk lebih mudahnya traveler yang mencari keberadaan jembatan ini bisa datang ke desa Manonjaya, Tasikmalaya.
Jembatan Cirahong, via instagram
Jembatan Cirahong adalah jembatan yang dibangun pada masa penjajahan Belanda di tahun 1893. Jembatan ini unik karena bersusun dua dimana bagian atas digunakan sebagai jembatan kereta api sedangkan terowongan di bawahnya untuk kendaraan umum. Saat kereta jurusan Bandung-Surabaya melintas, traveler bisa mendapatkan gambar yang sangat keren di tempat ini.
 

Sejarah Jembatan Cirahong Perbatasan Ciamis-Tasikmalaya

 Sasak Cirahong
Sejarah Jembatan Cirahong Perbatasan Ciamis-Tasikmalaya - Kita ketemu lagi dengan nyeleneh, karena dalam beberapa waktu ke belakang tidak bisa posting. Pada pembahasan kali ini kita akan membahas seputar sejarah pembanguna jembatan Cirahong perbatasan Ciamis-Tasikmalaya Jawa Barat.
Oke, kita langsung saja ke inti pembahasannya. Jembatan Cirahong letaknya di Desa Manonjaya, Tasikmalaya. Di perbatasan Kabupaten Tasikmalaya dengan Ciamis, Jawa Barat. Jembatan ini dibangun pada zaman penjajahan Belanda, atau tepatnya pada 1893.

Jembatan tersebut panjangnya mencapai 200 meter. Lebarnya tidak lebih dari 2 meter. Dua penyanga beton setinggi 46 meter terlihat kokoh menopangnya. Di bagian atas, besi-besi terlihat saling bersilang, menjaga bentang Cirahong, dari ujung ke ujung. Di atas jembatan, terdapat rel kereta api jurusan Bandung-Surabaya. Hingga kini, jalur tersebut masih aktif.
Jembatan Cirahong merupakan satu-satunya jembatan warisan Belanda di Kabupaten Ciamis, propinsi Jawa Barat. Kekokohan konstruksi ini, terbukti dari gempa bumi yang mengguncang sebagian wilayah Jawa Barat.
Mungkin sekian saja yang dapat nyeleneh sampaikan, semoga dapat bermanfaat untuk kita semua. Terima kasih.

icakan waterboom

Menara Diamond

Ini adalah Maskot dari icakan itu sendiri. awalnya maskot icakan adalah kingkong dan telah di rubah dan di ganti menjadi Menara Diamond.

MasjidAgung Icakan

Kemewahan arsitek Masjid ini dan terletak di atas bukit icakan membuat icakan semakin mempesona. mesjid icakan dengan konsep Kubah yang dapat di buka dan dapat terlihat di berbagai macam sudut.

Taman Pines

Dengan Pines yang tumbuh di atas danau Icakan dan di selipkan Saung bambu lesehan anda bisa menikmati keindahan

Kereta Wisata

Nikmati dengan berkeliling di icakan dengan menaiki kereta wisata icakan ini

Kolam Ombak

Mengusung Konsep Pantai, Icakan memberikan tampilan yang berbeda dengan adanya kolam ombah ini. anda bisa bermain dan bercanda ria bersama keluarga.

Sukahaji Water Boom, Cihaurbeuti

Sukahaji Waterboom berlokasikan di jalan Cihaurbeuti desa Sukahaji Kabupaten Ciamis. Dibangun diatas tanah 10.000 m2 dan didesain khusus sebagai Taman Rekreasi Air dan bermain dengan konsep nuansa alam yang eksotik dengan pemandangan Gunung Galunggung.
Berbagai macam aktivitas permainan atraksi Air dan taman bermain anak-anak yang menarik, unik, dan mengasyikkan dan penuh petualangan bagi anak-anak, sampai dengan remaja yang dapat anda nikmati.

Kontak:
Sukahaji Waterboom Ciamis
JL. Cihaurbeuti , Ciamis, Jawa Barat, Indonesia
0813-1140-8584

Curug Panganten - Ciamis

 
 curug Panganten memiliki ketinggian sekitar 50 meter.  Curug ini dapat dikatakan merupakan sambungan dari dua sungai yang mengalirinya.  Di bagian atasnya adalah batas akhir sungai Cirende dan bagian bawahnya adalah hulu dari Sungai Ciliung.  Bahkan batang akhir sungai Cirende sendiri ternyata tersusun dari tiga tangga curug, yaitu Curug Cirende, Curug Sewu dan terakhir Curug Panganten.  Curug Cirende dan Curug Sewu tidak dapat dilihat langsung dari bawah, karena disamping ketinggiannya rendah juga terhalang oleh tebing tinggi yang menjadi limpahan air terjun Curug Panganten.

Legenda

Konon curug tersebut dahulu disebut Curug Sewu.  Namun setelah terjadi peristiwa yang mengenaskan yang menimpa sepasang penganten di sekitar lokasi terebut, curug tersebut lebih dikenal dengan nama Curug Panganten.

Tidak banyak yang bisa di andalakan mengenai potensi wisata dari daerah Ciamis ini. Ada beberapa yang memang sudah sangat terkenal seperti Curug 7 Curug Cibolang di daerah Panjalu. Padahal kalau lebih di eksplore Ciamis punya banyak beberapa potensi wisata/ spot yang indah yang bisa di jadikan tempat wisata jika pemerintah mau serius. Contohnya Curug Panganten yang berada di kampung Kepel desa Kepel Kolot kecamatan Cisaga. Lokasinya tidak jauh dari Wana Wisata Karangkamulyan yang sudah terkenal itu. Berajarak hanya 3 km setelah melewati jembatan jalan 2 daerah sekitar Karangkamulyan jika arah Tasikmalaya menuju banjar, setelah itu belok kiri masuk jalan kecil ke arah SPBE. Nah sekitar 10 meter setelah jembatan kita akan menemukan masjid Riyadul Huda kemudian belok kanan mengikuti jalan kecil yang beraspal dan melewati hamparan pesawahan yang luas kemudian balok-balok kayu hingga sampai pertigaan setelah itu belok kanan. Ikuti jalan hingga nanti menemukan tanjakan, darisana kita berhenti, cukup sampai disana dan kita bisa menitipkan motor di dekat rumah warga. Jika biasanya jalan menuju ke tempat-tempat seperti curug itu hancur nah kalo kesini aksesnya lumayan bagus. Kemudian perjalanan di lanjutkan dengan berjalan kaki lurus (bukan jalan yang menanjak) dan masuk ladang yang lumayan rimbun, sekitar 200 kita sudah sampai di tempat tujuan. Kebetulan waktu kesini pas musim hujan jadinya air sedang dalam kondisi besar, area sekitar curug inipun berubah menjadi sebuah kolam besar. Beda sekali dengan kondisi pas waktu kering

Lokasi

Terletak di Dusun Kepel Kolot, Desa Kepel, Kecamatan Cisaga, Kabupaten Ciamis, Propinsi Jawa Barat.

Peta dan Koordinat GPS:


Aksesbilitas

Berjarak sekitar 400 m dari jalan raya Banjar-Ciamis dengan jalan masuknya tepat berada di sisi jembatan Sungai Citanduy.  Akses untuk menuju ke Curug Penganten ini tidaklah sulit, dengan beberapa papan petunjuk arah dipersimpangan jalan memudahkan untuk mencapai lokasi tersebut.  Juga kondisi jalan yang lumayan baik untuk dilewati kendaran roda dua maupun empat.  Pada jarak 50 m sebelum tiba dil lokasi perjalanan dengan kendaraan terhenti, selanjutnya disambung dengan berjalan kaki menyusuri jalan setapak.

Berwisata Sambil Ziarah di Situ Lengkong Panjalu



Situ lengkong panjalu ciamis
Situ lengkong panjalu ciamis
Alampriangan.com – OBYEK wisata Situ Lengkong Panjalu, sesuai namanya, adalah sebuah danau seluas 57,95 hektar (situ = danau dalam bahasa Sunda) yang terletak di Kecamatan Panjalu, Ciamis utara, sehingga dikenal juga sebagai Situ Lengkong Panjalu, atau Situ Panjalu saja.
Danau dengan kedalaman berkisar antara 4 sampai 6 meter tersebut, istimewanya, juga memiliki sebuah pulau (nusa) seluas 9,25 hektar yang disebut Nusa Larang atau Nusa Gede.
lokasi dan Jalur Menuju Situ Lengkong Panjalu
Situ Lengkong Panjalu berada pada kordinat 7 7′ 49.56″ S, 108 16′ 21.26″ E. Di sebelah utara, situ ini berbatasan dengan wilayah Talaga Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan.
Untuk mencapai obyek Situ Lengkong cukup mudah.  Dari arah Bandung dapat ditempuh melalui jalur Ciawi, Panumbangan, Panjalu, dengan jarak sekitar 100 Km. Sedangkan dari Ciamis, berjarak sekitar 35 km melalui jalur Buniseuri, Kawali dan sampai di Panjalu.

Keistimewaan Situ Lengkong Panjalu

Berada di ketinggian sekitar 70 meter dpl, Situ Lengkong merupakan perpaduan antara objek wisata alam dan objek wisata budaya. Di objek wisata ini pengunjung dapat menyaksikan keindahan danau yang berudara sejuk dan berperahu mengelilingi nusa.
Kondisi alam sekitar Situ Lengkong yang sejuk khas daerah pegunungan dan jauh dari polusi, menjadikan pengunjung dapat betah berlama-lama berdiam di kawasan konservasi tersebut.
Wisatawan Berkeliling Situ Lengkong Dengan Perahu (Foto Adhitya Ramadhan/Fotokita.net)
Wisatawan Berkeliling Situ Lengkong Dengan Perahu (Foto Adhitya Ramadhan/Fotokita.net)
Wisatawan yang datang, selain menikmati keindahan alam, juga bisa berziarah ke makam kuno Prabu Hariang Kancana, putra Sanghyang Borosngora di Nusa Larang dan mengunjungi Musium Bumi Alit, dimana disana tersimpan benda-benda purbakala seperti Menhir, Batu Pengsucian, Batu Penobatan serta naskah-naskah dan pekakas peninggalan milik Raja-raja Panjalu masa lalu, antara lain berupa pedang, cis dan genta (lonceng kecil) peninggalan Prabu Sanghyang Borosngora.

Nusa Larang

Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Besluit van den Gouverneur-Generaal van Nederlandsch Indie) Nomor 6 pada tanggal 21 Februari 1919, Situ Lengkong ditetapkan sebagai kawasan cagar alam (Natuurmonument).
Pada zaman Kolonial Belanda, Nusa Larang juga dinamakan Pulau Koorders.   Ini sebagai bentuk penghargaan kepada Dr Sijfert Hendrik Koorders, seorang ahli botani pendiri sekaligus ketua pertama Nederlandsch Indische Vereeniging tot Natuurbescherming (Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda) yang didirikan tahun 1863.

Situ Lengkong Zaman Belanda
Situ Lengkong Zaman Belanda
Koorders adalah tokoh yang mempelopori pencatatan berbagai jenis pohon yang ada di Pulau Jawa. Pekerjaannya mengumpulkan herbarium tersebut dilakukan bersama Theodoric Valeton, seorang botanis yang membantu melakukan penelitian komposisi hutan tropika.
Berkat kerja keras mereka terlahir buku Bijdragen tot de Kennis der Boomsoorten van Java, sebuah buku yang memberi sumbangan pengetahuan tentang pohon-pohon yang tumbuh di Pulau Jawa.
Sebagai Cagar Alam, Nusa Larang memiliki vegetasi hutan primer yang relatif masih utuh dan tumbuh secara alami. Beberapa jenis flora yang tumbuh adalah Kondang (Ficus variegata), Kileho (Sauraula Sp.), dan Kihaji (Dysoxylum).
Di bagian pulau yang lebih rendah juga tumbuh tanaman Rotan (Calamus Sp.), Tepus (Zingiberaceae), dan Langkap (Arenga).
Sedangkan beberapa fauna yang ditemukan antara lain adalah Tupai (Calosciurus nigrittatus), Burung Hantu (Otus scop), dan Kelelawar (Pteropus vampyrus).

Mitos Situ Lengkong Panjalu

Seperti tempat-tempat ziarah lainnya, Situ Lengkong juga memiliki mitos.  Konon, air danau Situ Lengkong tercipta dari tetesan air zam-zam yang dibawa dari tanah suci.
Ceritanya, pada awal abad ke-7, raja Panjalu menginginkan sang putra mahkota memiliki ilmu yang paling sempurna. Maka berangkatlah sang putra mahkota yang bernama Borosngora mengembara dan berakhir di tanah suci Mekah.
Gerbang Makam Prabu Hariang Kancana
Gerbang Makam Prabu Hariang Kancana
Setelah bertahun-tahun belajar agama di tanah Arab, Borosngora, yang kini telah beragama Islam, berniat kembali ke Panjalu. Untuk membuktikan bahwa pengetahuan agamanya telah mumpuni, sang guru mensyaratkan harus membawa air zam-zam ke dalam keranjang yang berlubang-lubang.
Setelah sampai d Panjalu, air zamzam tersebut kemudian ditumpahkan ke lembah bernama Lembah Pasir Jambu. Ajaib, lembah tersebut kemudian bertambah banyak airnya dan terjadilah danau yang kini disebut Situ Lengkong.
Air Situ Lengkong Konon Berasal dari Tetesan Air Zamzam (Foto By Yaddy Af/Fotokita.net)
Air Situ Lengkong Konon Berasal dari Tetesan Air Zamzam (Foto By Yaddy Af/Fotokita.net)
Borosngora kemudian menjadi Raja Panjalu menggantikan ayahnya dan menyebarkan agama Islam kepada rakyatnya.  Mulai saat itulah kerajan Panjalu berubah dari kerajaan Hindu menjadi kerajaan Islam (baca juga: Mitos Maung Panjalu).
Untuk menghormati  leluhur Panjalu, maka sampai saat ini warga keturunan Panjalu biasa melaksanakan upacara adat yang disebut Nyangku.  Acara ini dilaksanakan setiap Bulan Maulud dengan cara membersihkan benda-benda pusaka yang disimpan di Bumi Alit. Tentang Nyangku, baca: Upacara Adat Nyangku Panjalu, Media Syiar Prabu Borosngora.
Upacara Adat Nyangku
Upacara Adat Nyangku

Fasilitas di Situ Lengkong Panjalu

Fasilitas yang terdapat di obyek wisata Situ Lengkong antara lain: tempat parkir, perahu, MCK dan mesjid.  Di sekitar danau, juga banyak dijual cinderamata dari bambu, aneka bordir unik, gelang kayu,  terasi udang asli, makanan tradisional Sunda, dan banyak oleh-oleh khas Ciamis lainnya.
Selamat berkunjung!

Kampung Kuta: Kampung seribu pantangan yang diminati wisatawan

Nama Kuta berasal dari kata ‘Mahkuta’ atau mahkota dianggap sebagai ratunya perhiasan emas di Leuweung Gede.

KAMPUNG KUTA. Plang larangan di Kampung Kuta. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler.com



KAMPUNG KUTA. Plang larangan di Kampung Kuta. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler.com
BANDUNG, Indonesia – Pria itu berjalan sendiri, menikmati suasana kampung sambil mengabadikan momen menarik dalam setiap jepretan kameranya. Tak sadar, ia jauh melangkah sampai masuk hutan keramat. Karena ketidaktahuannya, ia tetap asyik memainkan kamera fotonya sampai sesosok anjing hitam sebesar sapi berdiri di hadapannya. Hutan keramat oleh warga Kampung Kuta disebut Leuweung Gede. Ki Warja menyakini di hutan itulah Dayang Sumbi, ibunda Sangkuriang, dibuang. Dalam legenda Gunung Tangkuban Parahu, diceritakan Dayang Sumbi ditemani seekor anjing hitam bernama Si Tumang, yang juga merupakan ayah Sangkuriang.
“Anjing itulah yang menampakkan diri pada si pemuda yang motret hutan itu,” kata Ki Warja awal bulan ini saat ditemui Rappler di kediamannya.
Cerita lainnya, sekelompok mahasiswa yang sedang melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN) di kampung itu, tersesat karena bermain di Sungai Cijolang tanpa ditemani warga setempat. Enam belas orang mahasiswa itu sempat hilang hingga berjam-jam.
Ketika ditemukan Ki Warja, mereka dalam kondisi kebingungan karena jalan yang mereka lalui sebelumnya seolah-olah hilang tak berbekas.
“Padahal mereka sudah dinasehati tidak boleh keliaran di atas jam lima sore, mereka malah main air ke kali, gak ada yang nemani,” kata kakek berusia 67 tahun itu.
KAMPUNG KUTA. Ki Warja, sesepuh Kampung Kuta. Folo oleh Yuli Saputra/Rappler.com



KAMPUNG KUTA. Ki Warja, sesepuh Kampung Kuta. Folo oleh Yuli Saputra/Rappler.com
Ki Warja adalah sesepuh Kampung Kuta. Kampung ini berada di Desa Karangpaninggal, Kecamatan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Dari Kota Bandung jaraknya bisa 177 km dengan jarak tempuh berkendaraan sekira 4 jam. Sedangkan dari pusat Kota Ciamis, kampung itu berjarak sekitar 45 km.
Kampung Kuta dikategorikan sebagai kampung adat yang dipimpin oleh seorang ketua adat. Selain ketua adat, ada kuncen dan sesepuh yang dihormati warganya. Dalam pengambilan keputusan, musyawarah menjadi cara untuk mencapai mufakat, termasuk dalam memilih sesepuh.
“Sesepuh itu yang dianggap paling nyaho (tahu) aman tidaknya masyarakat Kuta, yang tanggung jawab kapan mulainya menanam padi sampai jadi beras. Bahkan sampai beras itu dimasak jadi nasi,” jelas Ki Warja yang telah menjadi sesepuh Kampung Kuta sejak 2002.
Kampung ini memiliki banyak sekali pantangan baik bagi warganya maupun pendatang. Namun hal itulah yang membuat warga kampung masih memegang teguh tradisi leluhurnya.
Di kampung ini, rumah-rumah penduduknya masih berbentuk panggung dengan atap rumbia atau ijuk dan berdinding anyaman bambu. Seluruh bahan bangunan rumah harus terbuat dari bambu dan kayu.
Pantranganna (pantangannya) bikin rumah harus panggung, dindingnya tidak boleh tembok. bentuknya harus persegi panjang, tidak letter U atau bentuk lain. Tempat menyimpan beras harus dekat ke tempat tidur. Kalau rumah diperbaiki, tidak boleh nambah ruangan ke Timur atau Utara, kalau ke Selatan atau Barat bisa,” papar Ki Warja.
Warga Kampung Kuta juga dilarang membuat kamar mandi atau jamban di masing-masing rumah. Untuk kebutuhan mandi cuci kakus, warga menggunakan kamar mandi umum yang ada di tempat tertentu.
Biasanya menyatu dengan kolam iklan milik warga. Kamar mandi dan jamban terbuat dari bambu tanpa pintu dan setengah terbuka. Airnya berasal dari mata air yang mengalir melalui pancoran.
“Tidak boleh ada kamar mandi di rumah karena tidak boleh ada kubakan (septictank), jadi ngalir ke kali. Ini untuk mencegah demam berdarah dan penyakit lainnya. Kamar mandi juga tidak boleh ditembok,” jelasnya.
Membangun rumah juga tidak boleh ngompleks atau berkumpul. Harus berderet dengan jumlah maksimal empat rumah. Rata-rata rumah di Kampung Kuta berderet sebanyak dua rumah. Itulah sebabnya, di kampung ini masih banyak ruang terbuka.
KAMPUNG KUTA. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler.com



KAMPUNG KUTA. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler.com
“Kalau melanggar amanah leluhur, kita kualat. Bisa sakit atau meninggal,” ujar sesepuh yang juga menjabat sebagai wakil ketua adat ini.
Aturan mengenai tata bangunan membuat Kampung Kuta tampak unik. Inilah yang menjadikan Kampung Kuta menjadi tujuan wisata di Jawa Barat.
Selain itu, warga Kampung Kuta juga punya pantangan lain, yaitu tidak boleh menguburkan jenazah di kawasan kampung agar air tanah tidak tercemar. Tidak boleh membuat sumur bor karena tanah di Kampung Kuta labil.
Kampung seribu pantangan ini memiliki wilayah seluas 185.192 hektar. Sebagian sebagian besar lahannya dipergunakan untuk perkebunan dan pesawahan. Tak heran jika suasana di kampung ini masih asri dengan udara yang masih terasa segar.
Udara yang segar juga dipasok oleh hutan seluas 32.886 hektar. Hutan itu masih terjaga kelestariannya karena dianggap sebagai hutan keramat tempat para leluhur bersemayam.
Kampung Sejuta Legenda
Hutan keramat oleh warga Kampung Kuta disebut Leuweung Gede. Warga di sini masih meyakini di dalam hutan itulah Dayang Sumbi, ibunda Sangkuriang, dibuang. Dalam legenda Gunung Tangkuban Parahu, diceritakan Dayang Sumbi ditemani seekor anjing hitam bernama Si Tumang, yang juga merupakan ayah Sangkuriang.
Sejarah Kampung Kuta juga lekat dengan legenda Kerajaan Galuh (600-an Masehi). Konon, Kampung Kuta akan dijadikan pusat Kerajaan Galuh oleh Prabu Ajar Sukaresi. Namun rencana itu batal. Kampung Kuta lalu disebut sebagai nagara burung yang berarti daerah yang batal menjadi ibukota Kerajaan Galuh.
KAMPUNG KUTA. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler.com



KAMPUNG KUTA. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler.com
Leuweung Gede merupakan pusat kerajaan yang dibatalkan. Akan tetapi, perlengkapan dan peralatan untuk membangun sebuah kerajaan sudah disiapkan seperti besi, kayu, semen, batu dan bata. Karena batal, aneka material itu akhirnya tertimbun tanah dan berubah menjadi sebuah bukit kecil.
Bukit-bukit itu oleh warga diberi nama sesuai asal usulnya, Gunung Semen, Gunung Kapur, Gunung Barang, Gunung Wayang, dan Gunung Pandai Domas (pandai besi) yang kini membentengi Kampung Kuta. Leweung Gede dan tempat-tempat penyimpanan bahan bangunan yang gagal digunakan lalu ditetapkan sebagai tempat keramat.
Masyarakat Kuta yakin merupakan keturunan Kerajaan Galuh yang memliki tugas untuk memelihara dan menjaga kekayaan Raja Galuh.
Tugas tersebut diemban oleh juru kunci (kuncen). Ki Bumi, yang diduga Pangeran Pakpak, adalah kuncen pertama. Ia diutus Raja Cirebon untuk menyebarkan Agama Islam ke daerah Selatan.
Tempat Wisata yang Unik
Kampung Kuta memiliki potensi wisata yang lain daripada yang lain. Suasana kampung yang masih asli dan asri menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke kampung adat ini.
Keunggulan lainnya adalah banyaknya ancepan atau situs bersejarah yang bisa dikunjungi. Terdapat 24 ancepan di Kampung Kuta yang semuanya memiliki cerita terkait legenda Kerajaan Galuh.
Untuk mencapai Kampung Kuta, ada dua jalur yang bisa ditempuh, yakni melalui Kecamatan Rancah Kabupaten Ciamis atau Katapang Kota Banjar. Kondisi jalan di kedua jalur tersebut berkelok-kelok dan naik turun dengan pemandangan hutan Jati.
Namun kondisi jalan jalur Rancah lebih mulus dibanding Katapang sehingga jarak tempuh jauh lebih cepat. Bila tidak menggunakan kendaraan pribadi, bisa menyewa ojek atau angkutan umum.

Berikut 5 dari 24 ancepan yang sempat dikunjungi Rappler
1. Leuweung Gede
Hutan yang dianggap keramat itu terjaga kelestariannya dari dahulu hingga kini. Hal itu disebabkan masyarakat sekitar menganggap hutan tersebut dihuni oleh makhluk gaib. Karena terjaga kelestariannya, Leuweung Gede mendapat penghargaan Kalpataru sebagai penyelamat lingkungan pada 2002.
Kekeramatan hutan itu sering dimanfaatkan oleh orang-orang yang berniat mendapatkan kesuksesan dengan cara melakukan sejumlah ritual. Tapi dilarang keras memohon kekayaan karena itu menunjukkan ketamakan.
“Kalau ingin lulus ujian, terpilih jadi anggota dewan, bisa,” ujar Ki Warja sambil menyebutkan cucu seorang tokoh bangsa yang pernah melakukan ritual di Leuweung Gede.
KAMPUNG KUTA. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler.com



KAMPUNG KUTA. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler.com
Ada sejumlah pantangan yang harus diikuti oleh seseorang yang ingin memasiuki Leuweung Gede, yakni tidak boleh mengenakan alas kaki, tidak boleh meludah, dilarang memanfaatkan dan merusak sumber hutan.
Selain itu, masuk ke dalam hutan tak boleh pakai baju dinas dengan tanda pangkat, memakai baju hitam-hitam, membawa tas, memakai alas kaki, berbuat gaduh, dan memakai perhiasan emas. Perempuan yang sedang datang bulan pun dilarang masuk ke hutan keramat.
Menurut Ki Warja, banyak yang tidak percaya dan melanggar pantangan. Seperti membawa perhiasan emas ke dalam hutan.
“Akibatnya banyak yang hilang emasnya karena mereka tidak percaya,” katanya.
Ki Warja menjelaskan, nama Kuta berasal dari kata Mahkuta atau mahkota yang dianggap sebagai ratunya perhiasan emas yang ada di Leuweung Gede.
“Jadi kalau ada yang pakai emas, ketarik sama mahkuta, masuk ke dalam tanah, makanya banyak yang hilang,” ujar Kakek yang bernama asli Sanmarno ini.
Leuweung Gede hanya bisa dikunjungi setiap Senin dan Jumat mulai pukul 08.00 hingga 16,00.
2. Gunung Barang
Gunung Barang berada di sebelah Barat Daya kampung, berupa sebuah gundukan tanah yang konon dulunya adalah barang-barang perlengkapan untuk membangun pusat Kerajaan Galuh. Karena urung, barang-barang tersebut disimpan dan ditimbun di dalam sebuah gundukan tanah. Menurut Ki Warja, tempat ini juga sering dijadikan tempat bersemedi.

3. Gunung Padaringan
Padaringan adalah kata dari Bahasa Sunda yang berarti tempat menyimpan beras. Benda itulah yang konon menjadi asal mula terbentuknya Gunung Padaringan. Masyarakat Kuta percaya adanya Gunung Padaringan membuat mereka tidak pernah kekurangan pangan. Bahkan sejak dulu, mereka sudah swasembada beras.
KAMPUNG KUTA. Pandaringan di Kampung Kuta. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler.com



KAMPUNG KUTA. Pandaringan di Kampung Kuta. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler.com
“Di sini tidak ada warung yang jual beras, itu artinya masyarakat sudah menghasilkan beras sendiri,” jelas Ki Warja sambil menyebutkan semua penduduk Kuta bermatapencaharian sebagai petani.
Gunung Padaringan dianggap sebagai tempat beras sedunia yang menghidupi masyarakat di dunia. Tak jauh dari Gunung Padaringan ada sebuah pohon besar dengan lubang di tengahnya. Warga percaya di pohon itu hidup seekor tokek berukuran besar.
“Seperti tokek di rumah-rumah yang biasanya diam di dekat padaringan untuk menghalau tikus,” jelasnya.
4. Batu Goong
Batu Goong awalnya adalah Go’ong (Gong), sebuah alat Kesenian Sunda, yang berukuran besar. Alat musik ini juga peninggalan Kerajaan Galuh yang disebut Go’ong Sadunya. Lokasinya berada di sebelah Timur Laut. Menurut riwayat, Gong aslinya disimpan di Masjid Agung Cirebon.
5. Ciasihan
Ciasihan adalah sebuah tempat pemandian yang konon airnya bisa membuat seseorang dikasihi. Letaknya berada di tengah kampung. Ciasihan berasal dari kata cai (air) dan asih (kasih) yang berarti airnya dipercaya bisa menimbulkan kasih sayang. Tempat ini sering didatangi orang yang mengharapkan mendapat jodoh dengan mandi di sana. Airnya berasal dari sebuah mata air yang juga menjadi sumber air warga setempat.
KAMPUNG KUTA. Ciasihan di Kampung Kuta. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler.com



KAMPUNG KUTA. Ciasihan di Kampung Kuta. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler.com
Kampung Kuta mulai didatangi wisatawan pada 2002, setelah kampung tersebut mendapat penghargaan Kalpataru. Sejak dikenal sebagai tempat wisata, kampung yang penduduknya tak pernah lebih dari 400 jiwa ini berubah suasananya menjadi lebih ramai. Wisatawan tidak hanya datang dari dalam negeri, tapi juga mancanegara.
“Di mana-mana darongkap (datang). Dari Jakarta, Bandung, Bogor. Dari luar negeri juga datang, dari Perancis, Korea, Selandia Baru,” kata Saryaman (60) yang warungnya jadi laris manis.
Fasilitas untuk wisatawan juga disediakan seperti penginapan yang bayarannya berdasarkan kesepakatan. Ada pula panggung kesenian yang biasanya dipergunakan untuk mempertontonkan kesenian warga Kuta.
Walau ada pantangan untuk mempertunjukkan wayang dan cerita lakon lainnya, namun warga Kuta sendiri memiliki sejumlah kelompok kesenian. Jenis kesenian yang mereka pertontonkan adalah Calung, Tari Jaipong, dan musik Dangdut.
Setiap tanggal 25 Safar, warga Kuta memiliki tradisi untuk menggelar Upacara Adat Nyuguh. Tradisi ini sebagai tanda syukur kepada Tuhan dan Bumi yang telah menganugerahkan pangan bagi warga kampung. Pelaksanaan upacara ini diminati oleh wisatawan sebagai tontonan budaya.
Beragam tujuan orang datang ke Kampung Kuta. Ada yang berniat ziarah dengan maksud tertentu atau murni untuk berwisata alam dan budaya. Banyak juga mahasiswa yang menjadikan Kampung Kuta sebagai pilihan untuk melaksanakan kuliah kerja nyata.
Namun tidak banyak yang tahu jika Kampung Kuta memiliki kekayaan tanaman obat. Beragam tanaman dengan fungsi menyembuhkan aneka penyakit, tumbuh subur di tanah Kuta.
Kacapiring untuk mengobati penyakit lambung (maag), Handeuleum untuk obat Wasir, Pisang Kidang menyembuhkan diare berdarah, Tangkalak untuk penyakit bisulan, Daun Pecah Beling untuk obat kencing batu, Daun Sadagori untuk menurunkan tekanan darah tinggi, dan aneka bahan obat herbal lainnya.
“Rombongan mahasiswa keperawatan pernah datang ke sini khusus untuk belajar soal tanaman obat,” ungkap Ki Warja.
Berwisata ke Kampung Kuta adalah seperti sebuah paket lengkap. Pengalaman bertambah, wawasan pun meningkat.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | GreenGeeks Review